A Feeling I Never Chose to Keep
Tentang aku yang masih mengagumimu dalam diam.
Bukan karena aku memilih jarak ini untuk tetap tinggal. Bukan pula karena aku tidak pernah ingin melangkah lebih dekat.
Hanya saja, ada hal-hal yang tidak bisa kupaksakan untuk terjadi, sekalipun perasaan ini begitu dalam dan harapan itu masih sesekali tumbuh di antara doa-doa yang kupanjatkan.
Aku pernah mencoba memahami perasaan ini dengan logika. Mencari alasan mengapa seseorang bisa tinggal begitu lama di dalam pikiran, bahkan ketika hari-hari terus berjalan dan kehidupan menuntutku untuk tetap melangkah.
But feelings don’t always follow logic.
Ada hal yang bisa kuatur, seperti baris-baris kode yang kutulis setiap hari. Ada masalah yang bisa kutelusuri sumbernya, lalu kuperbaiki satu per satu.
Namun, perasaan ini berbeda.
Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana ia bermula, mengapa ia bertahan, atau kapan tepatnya ia akan menemukan akhirnya.
Yang kutahu, sampai hari ini, aku masih mengagumimu.
Dalam diam, dalam doa, dan dalam jarak yang kupilih untuk kuhormati.
Mungkin bagi sebagian orang, bertahan dengan perasaan seperti ini terdengar melelahkan. Mungkin ada yang bertanya mengapa aku masih menyimpan sesuatu yang belum tentu akan menjadi milikku.
Aku pun tidak selalu punya jawaban.
Aku hanya percaya bahwa tidak semua perasaan harus segera berakhir hanya karena kenyataan belum berjalan sesuai harapan. Ada yang perlu kupahami, ada yang perlu kujaga dengan bijaksana, dan ada yang harus kuserahkan kepada Tuhan.
Sebab aku tidak ingin menjadikan perasaan ini alasan untuk memaksakan kehendak. Aku tidak ingin harapanku menjadi beban bagi seseorang yang bahkan memiliki hak untuk menentukan jalannya sendiri.
Jika memang perasaan ini masih Tuhan titipkan kepadaku, biarlah aku belajar menjaganya tanpa kehilangan diriku sendiri.
Aku akan tetap berjalan. Tetap bekerja, bertumbuh, memperbaiki apa yang masih bisa kuperbaiki, dan membangun masa depan yang selama ini kuusahakan.
Aku tidak ingin hidupku berhenti hanya karena ada satu kisah yang belum menemukan ujungnya.
And if one day our paths are meant to meet again, I hope it happens in a way that brings peace to both hearts.
Bukan karena aku berhasil memaksakan sebuah akhir, melainkan karena kami sama-sama memilih untuk berjalan ke arah yang sama.
Namun, jika ternyata jalan kami berbeda, semoga Tuhan tetap memberiku hati yang lapang untuk menerima kenyataan tanpa harus membenci perasaan yang pernah ada.
Untuk sekarang, mungkin kisah ini masih bisa kusebut sebagai kesedihan yang tak berujung.
Masih ada rindu yang tidak disampaikan. Masih ada doa yang tidak diketahui olehnya. Masih ada harapan yang kusimpan tanpa tahu apakah suatu hari akan menemukan jawabannya.
But I still hope.
Semoga kelak, kesedihan ini berubah menjadi bahagia.
Entah bahagia yang mempertemukan kami dalam ikatan yang selama ini kuharapkan, atau bahagia yang membuatku akhirnya memahami mengapa perjalanan ini harus kulewati.
Aku tidak tahu bagaimana Tuhan akan menuliskan akhirnya.
Aku hanya ingin tetap menjadi seseorang yang mampu berusaha tanpa memaksa, berharap tanpa menuntut, dan mencintai tanpa melupakan bahwa kebahagiaan juga harus memberi ruang bagi pilihan orang lain.
Sampai hari itu tiba, biarlah aku tetap berjalan. Dengan perasaan yang masih ada, doa yang masih kupanjatkan, dan keyakinan bahwa apa pun akhirnya, hidupku tetap layak untuk diperjuangkan.