Ada rindu yang semakin ditahan justru semakin berat rasanya.
Kadang, aku ingin sekali meluapkan semuanya. Mengatakan bahwa ada seseorang yang masih sering terlintas dalam pikiranku, seseorang yang kehadirannya mampu mengusik ketenangan tanpa perlu melakukan apa-apa. Ada begitu banyak hal yang ingin kuceritakan, begitu banyak kalimat yang ingin kusampaikan, tetapi semuanya kembali berhenti di tempat yang sama: di dalam hati yang hanya bisa kupahami sendiri.
Sebab, aku sadar, aku bukan siapa-siapa.
Aku tidak memiliki tempat khusus untuk datang membawa segala kerinduan ini. Tidak ada janji yang bisa kujadikan alasan untuk berharap lebih jauh. Tidak ada kepastian yang bisa kugenggam untuk meyakinkan diriku bahwa suatu hari nanti, segala yang kurasakan akan menemukan tempatnya.
Aku hanya seseorang yang diam-diam merindukanmu, sementara hidupmu tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Dan mungkin, itulah bagian yang paling sulit dari merindukan seseorang: ketika hati memiliki begitu banyak hal untuk disampaikan, tetapi kenyataan mengajarkan bahwa tidak semua hal harus sampai kepada orang yang dituju.
Maka, aku memilih diam.
Bukan karena rinduku sudah habis. Bukan pula karena namamu perlahan kehilangan tempat di dalam pikiranku. Aku hanya sedang belajar menempatkan perasaan ini pada tempat yang semestinya, tanpa harus memaksakan kehadiranku ke dalam hidupmu.
Jika suaraku tidak memiliki tempat untuk menyapamu, biarlah doaku yang melakukannya.
Di antara malam-malam yang sunyi, ketika tidak ada siapa pun yang tahu apa yang sedang kupikirkan, aku menitipkan namamu kepada Tuhan. Aku tidak bisa menjanjikan apa yang akan terjadi esok hari, tetapi aku bisa memohon agar kebaikan selalu menyertaimu. Agar langkahmu dimudahkan, hatimu ditenangkan, dan hidupmu dipenuhi hal-hal yang membuatmu bersyukur.
Mungkin kamu tidak akan pernah tahu bahwa pernah ada seseorang yang menyebut namamu dalam doa-doanya.
Mungkin kamu akan menjalani hari-harimu tanpa pernah menyadari bahwa di suatu tempat, ada hati yang sedang belajar menenangkan dirinya sendiri sembari berharap kamu baik-baik saja.
Dan tidak apa-apa.
Tidak semua ketulusan harus diketahui pemiliknya. Tidak semua perasaan harus diumumkan agar keberadaannya menjadi berarti. Ada hal-hal yang memang cukup disimpan sebagai percakapan pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya.
“Jika aku belum bisa menyapamu melalui kata-kata, biarlah doaku menjadi cara paling sunyi untuk berharap bahwa hidup selalu memperlakukanmu dengan baik.”
Namun, aku juga manusia.
Ada hari-hari ketika aku merasa kuat, ketika aku bisa menjalani semuanya tanpa terlalu banyak memikirkanmu. Ada pula saat-saat ketika rindu datang tanpa aba-aba, membuat hal-hal sederhana terasa lebih dalam daripada biasanya.
Pada saat seperti itu, aku hanya bisa mengingatkan diriku sendiri bahwa merindukanmu bukan berarti aku harus melakukan sesuatu terhadapmu. Bahwa perasaan yang tumbuh di dalam diriku tetap menjadi tanggung jawabku untuk kujaga, bukan alasan untuk meminta sesuatu yang tidak pernah kamu janjikan.
Aku boleh merindukanmu tanpa mengganggu ketenanganmu.
Aku boleh mendoakanmu tanpa mengharapkan balasan.
Dan aku boleh menyimpan harapan tanpa menganggap masa depan sebagai sesuatu yang sudah menjadi milikku.
Barangkali, inilah ikhtiar yang jarang terlihat oleh siapa pun. Bukan ikhtiar untuk membuatmu berubah pikiran, bukan pula usaha untuk mencari jalan agar namaku menetap di dalam hidupmu. Melainkan ikhtiar untuk menjaga perasaanku agar tidak berubah menjadi tuntutan, menjaga harapanku agar tidak tumbuh menjadi keterikatan yang menyakitkan, dan menjaga diriku agar tetap mampu melanjutkan kehidupan.
Sebab, aku tidak ingin ketulusan yang kurasakan justru membuatku lupa bahwa kamu memiliki jalanmu sendiri.
Jika suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan yang berbeda, semoga pertemuan itu datang melalui cara yang baik, dengan keinginan yang sama-sama tumbuh tanpa paksaan. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang harus meyakinkanmu untuk memilihku. Aku ingin, jika memang ada kesempatan itu, kita sama-sama bersedia melangkah.
Namun, jika ternyata waktunya tiba dan bukan aku yang berdiri di sampingmu, aku berharap hatiku cukup lapang untuk menerima kenyataan itu.
Mungkin akan ada sedih yang harus kulewati. Mungkin akan ada doa-doa lama yang suatu hari kuingat kembali dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dan mungkin, aku membutuhkan waktu untuk memahami mengapa sesuatu yang pernah begitu kuharapkan ternyata tidak menjadi bagian dari hidupku.
Tetapi aku tidak ingin menganggap semua ini sebagai kesia-siaan.
Sebab, di balik setiap ikhtiar, ada pelajaran yang mungkin belum mampu kupahami hari ini. Di balik setiap harapan, ada kesempatan untuk mengenal diriku sendiri dengan lebih jujur. Dan di balik setiap doa, ada kesempatan untuk belajar menyerahkan sesuatu yang tidak berada dalam kendaliku kepada Tuhan.
Aku tidak tahu akhir dari cerita ini.
Aku hanya tahu bahwa hari ini, aku masih merindukanmu. Dan aku sedang belajar agar kerinduan itu tidak membuatku berhenti menjalani hidup, tidak membuatku mengabaikan diriku sendiri, serta tidak membuatku lupa bahwa kebahagiaan juga bisa tumbuh dari hal-hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Untuk saat ini, biarlah doaku yang menyapamu.
Biarlah Tuhan yang mengetahui apa yang tidak mampu kuucapkan, memahami apa yang belum mampu kupahami, dan membimbingku melewati segala kemungkinan yang belum kuketahui.
Jika kelak bukan aku yang berada di sampingmu, semoga aku tidak perlu membenci perjalanan ini hanya untuk menerima akhirnya. Semoga aku tetap bisa mengenang perasaan ini sebagai bagian dari diriku yang pernah berusaha tulus, tanpa harus menjadikannya alasan untuk terus tinggal dalam masa lalu.
Sebab, mungkin hikmah dari sebuah ikhtiar tidak selalu berupa tercapainya apa yang kita inginkan. Terkadang, hikmah itu hadir dalam diri kita sendiri: dalam hati yang perlahan belajar menerima, dalam langkah yang tetap berani berjalan, dan dalam keyakinan bahwa hidup masih memiliki banyak hal baik yang belum kita temui.
Dan jika suatu hari nanti aku tidak lagi menyebut namamu dengan kerinduan yang sama, semoga itu bukan karena aku membenci apa yang pernah kurasakan. Semoga itu karena aku telah belajar menerima, bahwa ada hal-hal yang bisa kita sayangi dengan tulus tanpa harus kita miliki selamanya.
Sampai hari itu tiba, aku akan tetap menjalani hidupku.
Aku akan tetap berusaha menjadi lebih baik, tetap mengejar apa yang ingin kucapai, dan tetap menitipkan segala yang tidak mampu kukendalikan kepada Tuhan.
Sementara untukmu, semoga hidup selalu membawamu menuju kebaikan.
Kamu mungkin tidak akan pernah tahu berapa banyak doa yang pernah menyebut namamu. Kamu mungkin juga tidak akan pernah membaca tulisan ini. Namun, tidak apa-apa. Aku tidak menulisnya agar kamu merasa harus mengetahui sesuatu, apalagi agar kamu merasa memiliki tanggung jawab atas apa yang kurasakan.
Aku hanya sedang belajar mengungkapkan sesuatu yang selama ini kusimpan dalam diam.
Bahwa ada rindu yang tidak menemukan jalan untuk disampaikan.
Bahwa ada harapan yang tidak berani memastikan akhir ceritanya.
Dan bahwa ada seseorang yang, untuk saat ini, memilih menitipkan kerinduannya kepada Tuhan daripada memaksakan dirinya hadir di tempat yang belum tentu disediakan untuknya.